Featured

Kamis, 05 Februari 2015

Harga Pokok Penjualan pada Perusahaan Dagang

Harga Pokok Penjualan Usaha Dagang - Setelah sebelumnya saya membahas tentang basic mengenai Harga Pokok Penjualan (Cost of Good Sold) atau yang biasa di singkat HPP atau COGS. Sekarang saya akan membahas mengenai Harga Pokok Penjualan untuk Perusahaan Dagang. kali ini bahasan akan mengenai alur COGS, jurnalnya, perhitungan dan juga pelaporan HPP-nya.

Harga Pokok Penjualan Perusahaan Dagang

Pada postingan sebelumnya, untuk perusahaan dagang, ntah itu berbentuk wholesaler ataupun retailer, penghitungan harga poko penjualan-nya lebih mudah, juga lebih sederhana dibanding perhitungan harga pokok penjualan pada perusahaan manufakture (industri), tetapi meskipun begitu, dalam usaha dagang mempunyai karakteristik yang khas:
  • Dalam perusahaan dagang tidak menggunakan mesin untuk produksi, maka dari itu tidak akan muncul penyusutan atas mesin. tapi mungkin akan ada beban penyusutan atas peralatan, contohnya peralatan packing.
  • Tidak ada Direct Labour Cost ( Tenaga Kerja Langsung),  sekalipun ada tenaga kerja yang terlibet secara langsung membawa barang dagang menjadi barang siap jual, biayanya susah untuk di-alokasi-kan sebagai upah/biaya direct labour cost (tenaga kerja langsung). maka dari itu, upah seperti ini umumnya dibebankan menjadi bagian biaya overhead yaitu ongkos packing
  • Cost dalam perusahaan memiliki siklus yang lebih pendek
  • Untuk usaha dagang yang menjual barang dagang yang relatif sama dalam jenis barang, ukuran serta kualitas akan jadi masalah tersendiri. maka dari itu dibutuhkan penerapan metode tertentu untuk bisa menilai barang persediaan, hal ini tentu akan berpengaruh secara langsung terhadap pembebanan biaya persediaannya atau inventori cost'nya

Struktur dari Harga Pokok Penjualan Perusahaan Dagang


COGS atau harga pokok penjualan perusahaan dagang terdiri atas dua kelompok, Inventory (persediaan barang) dan Overhead.

Persediaan Barang [inventory]


Inventory merupakan persediaan barang dagang yang didapat/diperoleh dari sisa persediaan barang pada periode yang lalu. Didalam akuntansi biasa kita sebut opening balance (saldo persediaan awal) ditambahkan dengan pembelian barang dagang pada periode berjalan, dikurangi saldo akhir (sisa persediaan). Nah, itulah Inventori Cost yang harus dibebankan menjadi Harga Pokok Penjualan

Apabila dibuat strukturnya, akan nampak seperti ini

A. Opening Balance.

B. Purchases
  • Purchasse
  • Freigth In
  • Discont
  • Return.
C. Sales.

D. Clossing Balance.

Overhead


Elemen Harga Pokok Penjualan [COGS] perusahaan dagang berikutnya ialah overhead. overhead merupakan cost yang memiliki pengaruh secara tidak langsung atas HPP. beberapa overhead berikut yang umumnya muncul dalam usaha dagang:
  • Packing.
  • Warehousing
  • Frieght Out
Total akumulasi dari semua elemen biaya diatas adalah Harga Pokok Penjualan [COGS] dari usaha dagang.

Siklus serta Alur Transaksi dan Jurnal


Diatas telah disebutkan bahwa elemen pembentuk harga pokok penjualan usaha dagang terdiri atas inventori dan juga biaya overhead (overhad cost)

Alur serta siklus dari transaksi Inventory Cost :

Tiap-tiap prosess akuntansi yang berkaitan dengan Neraca slalu diawali dari: Opening Balance (saldo awal), kemudian dilanjutkan Current Activitiies (traksaksi debet-transaksi kredit) yang pada ujungnya bermuara ke Neraca lagi berupa Closing Balance (saldo akhir).

Pun sama halnya dengan inventori yang juga merupakan bagian dari sebuah Neraca. maka alurnya juga berawal dari opening balance (saldo awal) inventory. selanjutnya apabila ada aktivitas pembelian barang dagang, maka saldonya juga akan bertambah. dicatat dengan jurnal:

Debit | Persediaan (menambah persediaan di neraca)
Kredit | kas / utang dagang (mengurangi saldo kas di neraca)

Dan apabila ada transaksi penjualan barang dagang, maka saldo persediaan akan berkurang. Nah ketika terjadi transaksi penjualan barang dagang inilah Inventoroy Cost kita akui, dengan menjurnal:

Debit | HPP (cogs) (menambah saldo HPP di lap. L/R)
Kredit | Persediaan (mengurangi persediaan di neraca)

Notes:
HPP atau COGS merupakan biaya yang akan menjadi salah satu faktor pengurang laba, kita ketahui bersama laba adalah elemen Neraca. persediaan yang berkurang pada aktiva diseimbang-kan oleh laba pada pasiva yang juga berkurang sehingga laporan Neraca selalu dalam keadaan balance.

Dan karena ini adalah juga sebuah transaksi penjualan, maka di waktu yang sama penjualan harus diakui, dicatat dengan jurnal:

Debit | Kas / Piutang (Menambah Kas/Piutang di Neraca)
Kredit | Penjualan (Menambah Saldo Penjualan di Laporan Laba Rugi)


Notes:
Penjualan adalah pendapatan yang merupakan salah satu faktor yang menambahkan Laba. laba merupakan elemen dari Neraca. kas atau piutang yang berkurang didalam aktiva akan diseimbang-kan oleh laba pada sisi pasiva yang bertambah.
Apabila bisa digambarkan dalam suatu skema, maka transaksi COGS atau harga pokok penjualan memiliki alur seperti ini:

harga pokok penjualan usaha dagang
harga pokok penjualan usaha dagang

Ok, untuk sepertinya sudah terlalu panjang postingannya, next kita akan bahas tentang Perhitungan Harga Pokok Penjualan untuk Usaha Dagang, namun tidak kali ini, ini sudah terlalu panjang, agar enak dibaca, saya akan tulis pada tulisan berikutnya :
Contoh Soal Harga Pokok Penjualan Usaha Dagang


Harga Pokok Penjualan Metode FIFO

Perhitungan Harga Pokok Penjualan (COGS) Metode FIFO


Setelah sebelumnya perhitungan harga pokok penjualan metode rata rata (average), kali ini kita bahas contoh soal harga pokok penjualan metode FIFO, FIFO yang merupakan akronim dari First In First Out, adalah barang dagang yang masuk lebih dulu, itulah yang harus dijual lebih dulu.

Contoh Soal:

Masih dengan contoh soal yang sama dengan sebelumnya, pada Harga Pokok Penjualan metode rata rata (average method), saya akan tulis kembali:

UD Albirin Asri yang merupakan sebuah toko yang berdagang menjual beras pada tanggal 1 April mempunyai persediaan sejumlah 1 kwintal (100 kg) beras senilai Rp 300.000. tampak beberapa transaksi yang terlihad pada buku catatan UD Albirin Asri seperti berikut:

DateTransaksiKuantitasUnit PriceJumlah
01-Apr
Penjualan
404.500180.000
10-Apr
pembelian
303.10093.000
10-Apr
Penjualan
664.650302.000
20-Apr
pembelian
253.20080.000
30-Apr
pembelian
403.250130.000
30-Apr
Penjualan
254.875121.875

Dan inilah rangkumannya

Rangkuman
Total Pembelian 95 303.000
Total Penjualan 130 604.000

Transaksi pada 1 April:
Karena persediaan barang pada tanggal 1 April 2015 hanya bersaldo awal 100 kg,  maka 40 kg dijual menggunakan unit cost

Saldo Awal = 300.000 : 100 = Rp 3.000
Total COGS 1 April = Rp 3.000 x 40 kg = Rp 120.000
Persediaan Akhir = Rp 300.000 - 120.000 = Rp 180.000

Transaksi 10 April:
Pembelian barang dagang 30 kg sesenilai Rp 3.100 per kg, total pembelian : Rp 93.000
Terjual barang dagang 65 kg, akan unit cost yang mana yang digunakan?

Karena pada 01 April telah terjual 40 kg, sisa barang dagang yang sebelumnya menggunakan unit price hanya sisa 60 kg, dan tidak cukup untuk menutupi transaksi penjualan yang sebanyak 65 kg, jadi:
60 kg barang dagang menggunakan unit price Rp 3.000
5 kg barang dagang mempergunakan unit price Rp 3.100

Total COGS 10 April 2015:

60 x Rp 3.000  = Rp180.000
5 x Rp 3.100  = Rp15.000
Total COGS Rp195.500

Apabila dibuatkan tabel, akan tampak seperti ini:

FIFO METHOD
Date/Acc 01-Apr 10-Apr 10-Apr 20-Apr 30-Apr Total
Opening Balance Qty 100 60 30 25 50 50
Rp 300.000 180.000 93.000 77.500 157.500 157.500
Purchase Qty 30 30 25 40 95
U/Prx 3.100 3.100 3.200 3.250
Rp 93.000 93.000 80.000 130.000 303.000
Sold (COGS) Qty 40 60 5 25 130
U/Prx 3.000 3.000 3.100 3.100
Rp 120.000 180.000 15.500 77.500 393.000
Closing Balance Qty 60 30 25 50 65 65
Rp 180.000 93.000 77.500 157.500 210.000 210.000

Summary :
Opening Balance 100 300.000
Purchase 95 303.000
Sold (COGS) 130 393.000
Closing Balance 65 210.000

Notes:
Coba perhatikan summarynya, Bila hendak diuji, silahkan pergunakan rumus COGS seperti yang telah dilakukan pada postingan sebelumnya pada metode Average Method

Itulah sekilas contoh soal harga pokok penjualan metode FIFO, selanjutnya kita menggunakan Harga Pokok Penjualan Metode LIFO sekaligus mengenai kajian pajak tentang harga pokok penjualan pada usaha dagang, pada artikel berikutnya :
Harga Pokok Penjualan Metode LIFO


PENGERTIAN MANAJEMEN, Ini Penjelasannya !

Pengertian Manajemen

Pengertian Manajemen - sudah barang tentu kata kata manajemen sudah tak asing lagi di telinga kalian, lalu Apa Itu Manajemen ? bagaimana pengertiannya? kata manajemen berasal dari bahasa inggris, "Manage" yang memiliki arti mengelola/mengurus, mengendalikan, mengusahakan dan juga memimpin. Manajemen adalah Sebuah proses dalam rangka untuk mencapai suatu tujuan organisasi dengan cara bekerja secara bersama sama dengan orang - orang dan sumber daya yang dimiliki organisasi. itu sekilas pengantar pengertian manajemen.

Dan bagaimanakah definisi manajemen menurut para ahli ?
Pengertian Manajemen
Pengertian Manajemen

Pengertian Manajemen Menurut Para Ahli


Mary Parker F.

Mary Parker F mendefinisikan pengertian manajemen sebagai suatu seni, tiap tiap pekerjaan bisa diselesaikan dengan orang lain.

George R. Terry

George Terry memberikan pendapat, Definisi Manajemen merupakan ilmu sekaligus seni, manajemen adalah wadah didalam ilmu pengetahuan, sehingga manajemen bisa dibuktikan secara umum kebenarannya.

Koontz

Manajemen yang didefinisikan oleh Koontz adalah suatu seni yang produktif yang didasarkan pada suatu pemahaman ilmu. Koontz menambahkan, ilmu dan seni tidaklah bertentangan, namun masing masing saling melengkapi.

Stoner

Stoner memiliki pendapat, Ilmu Manajemen merupakan proses dalam membuat suatu perencanaan, pengorganisisasian, pengendalian serta memimpin berbagai usahda dari anggota entitas/organisasi dan juga mempergunakan semua sumber daya yang dimiliki untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.

Wilson

Seorang Wilson berpendapat definisi manajemen sebagai sebuah rangkaian tindakan tindakan yang dilakukan oleh para anggota organisasi dalam upaya mencapai sasaran organisasi. prosess merupakan suatu rangkaian aktivitas yang dijalankan dengan sistematis.

Oey Liang Lee

Menurut Oey Liang Lee, Arti Manajemen adalah ilmu dan seni perencanaan, peng-organisasi-an, penyusunann, pengarahan serta pengendalian (pengawasan) dari sumber daya perusahaan guna mencapai goal atau tujuan yang telah diputuskan.

Lawrance A Appley

Menurut Lawrence A Appley, pengertian manajemen adalah sebuah seni dalam mencapai tujuan yang diinginkan yang dilaksanakan dengan usaha orang yang lain.

Masih kurang? masih banyak ahli atau pakar yang lain, dengan susunan kata kata yang berbeda, namun benang merahnya masih tetap sama, lebih baik tidak perlu untuk di jabarkan satu satu disini :)

Dari berbagai pengertian manajemen yang telah didefinisikan beberapa ahli diatas, kita bisa menyimpulkan bahwa pengertian manajemen adalah ilmu serta seni dalam menjalankan aktivitas suatu organisasi, aktivitas aktivitas tersebut bisa berupa pengorganisaisan yang meliputi tindakan perencanaan, penyusunan, dan aktivitas mengusahakan serta pengawasan yang mempergunakan semua sumber daya yang dimiliki oleh organisasi yang bertujuan tidak lain untuk mencapai goal keinginan yang sudah ditetapkan sebelumnya. contoh kalau dalam sebuah perusahaan, goalnya adalah Laba.

Proses Fungsi Manajemen


Umumnya, ada beberapa proses dan fungsi yang biasa diimplementasikan dalam kegiatan manajemen

1. Perencanaan

Perencanaan merupakan suatu proses yang meliputi upaya yang dijalankan guna mengantisipasi adanya kecenderungan di masa mendatang dan penentuan sebuah strategi maupun taktik yang tepat guna merealisasikan tujuan dan target organisasi.

2. Pengorganisasian

Pengorganisasian merupakan suatuproses yang meliputi bagaimaan taktik serta strategi yang sudah dirumuskan pada saat tahap perencanaan digambarkan pada sebuah strukturr organisasi yang tangguh, sesuai, dan lingkungan yang kondusif serta bisa memberikan kepastian bahwa pihak pihak yang ada didalam organisasi bisa bekerja secara efisien dan efektif untuk pencapaian tujuan yang ditetapkan.

3. Pengarahan

Pengarahan adalah tahap dimana prorgram diimplementasikan suapaya bisa dilakukan oleh semua pihak dalam sebuah organisasi dan juga proses  memotivasi supaya pihak pihak tersebut bisa melaksanakan tanggung jawab dengan kesadaran penuh dan tingkat produktifitas yang sangat tinggi.

4 Pengendalian

Pengendalian adalah proses yang dijalankan guna rangkaian aktivitas aktivitas kegiatan yang sudah direncanakan, diorganisasikan serta diimplemantasikan dipastikan berjalan dengan semestinya sesuai target yang telah diharapkan walaupun ada beberapa perubahan yang terjadi didalam lingkungan yang dihadapi.

Jenis Jenis Manajemen


Umumnya, dalam sebuah perusahaan jenis jenis manajmen dibagi menjadi Empat (4), antara lain:

Untuk detail masing masing telah saya posting, silahakan klik pada masing masing jenis manajemen di tulisan diatas. Sepertinya sudah cukup sekian artikel mengenai Pengertian Manajemen semoga tulisan ataupun makalah manajemen  ini memberi manfaat bagi anda


Rabu, 04 Februari 2015

Harga Pokok Penjualan | Cost of Goods Sold - Basic

Pengertian Harga Pokok Penjualan

Harga Pokok Penjualan adalah semua biaya yang muncul dalam rangka menghasilkan suatu produk hingga produk tersebut siap dijual. dengan bahasa sederhana, Harga Pokok Penjualan yang biasa disingkat HPP merupakan biaya yang dikeluarkan dalam suatu proses produksi barang dan jasa yang dapat dihubungkan secara langsung dengan aktivitas prosess yang membuat produk barang dan jasa siap jual.

harga pokok penjualan
Harga Pokok Penjualan HPP

Struktur Harga Pokok Penjualan


Dari definisi Harga Pokok Penjualan diatas, bisa kita dapatkan strukture dasar dalam harga pokok penjaualan umumnya terdiri dari tiga elemen besar:
  • Persediaan atau Inventori
  • Tenaga Kerja Langsung atau Direct Labour Cost
  • Biaya Overhead (Overhead Cost)

Persediaan | Inventory


Dalam perusahaan dagan, element persediaan (inventory) hanya terdiri atas Persedian Barang Jadi saja, dikenal dengan istilah Inventori

Sedangkan pada perusahaan manufakture, elemen persediaan meliputi:
  • Raw Materials (Persedian Bahan Baku)
  • Work In Process atau WIP (Persidiaan Barang Dalam Proses)
  • Inventory (Persediaan Barang Jadii)

Elemen Persediaan yang dimaksud adalah besarnya Persediaan Terjual. Untuk mengetahui besaran nilai jumlah persediaan yang telah terjual, maka beberapa unsur dibawah ini perlu diketahui lebih dulu:
  • Persidiaan Awal
  • Pembelian (dalam usaha dagang)
  • Harga Pokok Produksii (dalam perusahaan manufakture)
  • Persediaan Akhir.
  • Persediaan yang digunakan atau disebut juga Barang Tersedia untuk Dijual

Persediaan Awal

Persediaan Awal merupakan nilai jumlah persediaan yang telah dimiliki sebelum proses pada periode berjalan dimulai. Artinya, persediaan telah ada dahulu sebelum operasi pada periode sekarag dimulai

Pembeliaan

Perlu diingat, bahwa yang diakui adalah merupakan pengeluaran atau 'cost yang terjadi', sehingga jumlah pembelian yang diakui sebesar cost yang muncul saja, ini diwujudkan dalam bentuk Pengeluaran Kas ataupun pengakuan Utang Dagang. jadi besarnya nilai pembelian yang diakui sebesar nilai net purchase atau nilai bersihnya saja. Hal seperti ini perlu dipertegas karena dalam prakteknya sangat sering perusahaan sbagai pembeli, ntah itu pembelian untuk barang jadi (dalam perusahaan dagnag) ataupun dalam pembelian raw material (bahan baku) dalam perusahaan manufakture mendapatkan diskon (potongan harga), atau bisa terjadi juga return barang (pengembalian) kepada penjual. untuk mendapatkan nilai bersihnya (net purchase) maka diperlukan strukture menjadi,:
  • Gross Purchases (atau biasanya tertulis Purchase saja)
  • Discount (potongan harga)
  • Return (pengembalian barang)
  • Net Purchase (pembelian bersih)

Persediaan Akhir

Persediaan akhir merupakan besarnya nilai persediaan yang dibukukan sebagai 'persediaan' pada akhir periode

Persediaan yang Digunakan atau Persediaan Tersedia Untuk Dijual

Persediaan tersedia untuk dijual (BTOD) merupakan besarnya nilai persediaan:
  • Barang dagang yang terjual, ini berlaku untuk usaha dagang
  • Besarnya Raw Maeterial atau bahan baku yang digunakan & barang dagan yang terjual, ini berlaku untuk perusahaan manufakture.

Direct Labour Cost (Tenaga Kerja Langsung).


Tenaga Kerja Langsung merupakan upah yang diberikan atau dibayarkan kepada karyawan/tenaga kerja yang terlibat secara langsung dalam aktivitas pengolahan barang dagang. Disebut Biaya Tenaga Kerja Langsung apabila besar kecilnya upah yang dibayar terrgantung pada jumlah unit produk yang dihasilkan

Biaya yang dikelompokkan kedalam direct labor cost merupakan tenaga kerja yang bayarannya berdasarkan pada: Upah Satauan atau Upah Harian per jam

Dalam direct labor yang dibayar dengan upah satuan bisa kita lihat dengan jelas sekali kalau tenaga kerja model ini bisa dibebankan secara langsung pada produk yang dihasilkan

Apabila upah yang dibayar berdasar pada jumlah jam kerja,maka umumnya perusahaan sudah menentukan satuan jumlah yang harus diproduksi untuk rentang waktu tertentu baik itu perjam atau perhari. sehingga di akhir perhitungan bisa diketahui berapa besar biaya tenaga kerja langsung yang dibebankan untuk satu unit produk dan total biaya tenaga kerja langsung untuk akumulasi produk yang diproduksi/dihasilkan.

Dalam perusahaan dagang yang kecil, biaya tenaga kerja langsung cenderung sulit agar dapat dialokasikan dengan semestinya, sehingga biaya tenaga kerja langsung hanya dapat ditemukan pada perusahaan manufaktur atau perusahaan tambang.

Overhead Cost


Biaya Overhead adalah biaya yang muncul selain dari elemen elemen yang telah disebut diatas, biasanya diistilahkan dengan indirect cost. jenisnya sangat bervariasi tergantung dari skala usaha, jenis usaha serta jenis sumber daya yang digunakan oleh perusahaan. yang paling sering ditemui dalam usaha manufakture ataupun usaha dagang ialah:
  • Biaya Sewa/rental cost
  • Depresiasi Mesin dan Peralatan. 
  • Penyusutan Gedung Pabrik. 
  • Biaya Listrik dan Air pabrik  atau Factory’s Utilities
  • Biayta Pemeliharaan Pabrik dan mesin (Maintenance)
  • Biaya Pengemasan (Packaging)
  • Gudang
  • Sampelproduksi (Preproduction sampling)
  • Biaya/Ongkos kirim
  • Kontainer (Continer)

Siklus serta Alur Jurnal Harga Pokok Penjualan


Inventory

Inventori yang ada pada neraca periode sebelumnya menjadi persediaan awal di periode saat ini. Apabila persediaan berhasil terjual diperiode berjalan, maka persedian tersebut di-biaya-kan serta diakui sebagai HPP (harga pokok penjualan).

Proses pem-bebanan persediaan dilakukan saat barang diserahkan (terjual) dengan penjurnalan seperti ini:

Debet | HPP
Kredit |
Inventory

Notes:
Untuk membebankan persediaan terjual kedalam HPP, jurnal tersebut:
  • Sisi Debet akan menambah HPP pada laporan laba rugi
  • Sisi Kredit akan menguraangi persediaan dalam neraca pada akhir periode.
Jurnal diatas berpasangan dengan jurnal:

Debit|Kas atau Piutang
Kredit|Penjualan

Notes: guna mengakui adanya penjualan serta piutang atau penerimaan kas pada periode tsb

Apabila dalam periode yang sama ada penambahan persediaan karena pembelian barang dagang, maka pembelian itu menambah jumlah nilai inventory (persediaan barang dagang). jurnal atas pembelian tersebut dicatat:

Debit|Inventory
Kredit|Kas / Utang Dagang


Notes:
Sisi Debit menambah nilai persediaan dalam neraca
Sisi Kredit mengurangi kas atau menambah akun utang dagang di neraca

Dan apabila sebagian dari barang tersebut terjual, maka bagian persediaan yang terjual akan dibebankan kepada HPP seperti alur pertama tadi dan jurnalnya sama saja.

Barang Dalam Proses dan Bahan Baku (Work In Process & Raw Material)


Dalam perusahaan manufakture, selain persediaan barang jadi, terdapat juga work in process atau persediaan barang dalam proses serta persediaan raw material (bahan baku)

Persediaan barang dalam proses dan raw material yang ada dalam neraca periode lalu akan jadi persediaan awal di periode berjalan. apabila persediaan terpakai ketika aktivitas pada periode berjalan, maka persediaan yang telah terpakai tersebut dibebankan pada harga pokok penjualan, dengan penjurnalan:

Jurnal untuk Raw Material (Bahan Baku):

Debit | Persediaan Barang Dalam Proses
Kredit | Persediaan Bahan Baku

Jurnal untuk barang dalam proses:

Debit | Inventory
Kredit | Persediaan Barang Dalam Proses


Apabila terjadi suatu pembelian bahan baku, maka pembelian itu akan menambah persediaan raw material dalam neraca, pembelian tersebut dijurnal dengan:

Debit | Bahan Baku
Kredit | Kas / Utang Dagang


Selanjutnya, apabila sebagian dari raw material yang dibeli tadi digunakan, maka dicatat dengan jurnal sama seperti pembebanan persedian baan baku kedalam persediaan barang dalam proses diatas.

Biaya Tenaga Kerja Langsung dan Biaya Overhead (direct labor cost and over head cost)


Biaya tenaga kerja langsung diakumulasikan raw material usage serta work in proces usage akan menghaslkan Harga Pokok Produksi, dan selanjutnya Harga pokok poroduksi dan inventori akan menghasilkan Harga Pokok Penjualan

Perhitungan Dasar HPP | Harga Pokok Penjualan


perhitungan HPP bisa dirumuskan dengan berikut ini:

HPP = Inventori Usage + Direct Labor Cost + Overhead Cost.

Inventori Usage bisa diturunkan menjadi:

Saldo Awal + Pembelian atau Penambahan – Saldo Akhir

Pembelian bisa diturunkan menjadi:

Purchases atau invoice - Discount - Return


Format Pelaporan Harga Pokok Penjualan


Melihat Strukture, alur serta perhitungan HPP seperti tadi, maka format laporan HPP bisa kita construct.  namun contoh bentuk laporannya nanti saja pada postingan berikutnya.. kali ini sudah terlalu panjang pengantar tentang HPP. supaya enak dibaca saya posting pada postingan berikutnya yang bisa anda baca di
Harga Pokok Penjualan Perusahaan Dagang


Selasa, 03 Februari 2015

Analisa Break Even Point | Pengertian BEP

Pengertian Break Even Point


Break Even Point, pernah dengar istilah apa tersebut ?

Pengertian Break Even Point adalah kondisi dalam suatu operasi entitas bisnis tidak menghasilkan laba, pun tidak mengalami kerugian. Dalam bahasa sederhana: IMPAS (pendapatan = beban). Break Even Point seringkali disingkat BEP dalam penyebutannya agar mudah oleh kebanyakan orang.

analisa Break Even Point
Break Even Point
Ok, saya kutipkan beberapa pengertian Break Even Point menurut beberapa ahli:

S Munawir | 2002
Titik BEP (Break Even Point) atau juga titik pulang pokok adalah suatu kondisi operasi perusahaan tidak mendapatkan laba dan juga tidak mengalami kerugian (Total Biaya = Total Pendapatan)
Abdullah | 2004
Abdullah menyatakan Analisis BEP yang juga disebut Cost Volume Profit analysis bagi manajemen suatu perusahaan menjadi sangat penting dalam pengambilan suatu keputusan keuangan, yaitu:

  • Untuk menetapkan angka minimal yang harusnya diproduksi oleh perusahaan supaya tidak menyebabkan kerugian
  • Menetapkan target angka penjualan yang harusnya bisa dicapai guna memperoleh laba tertentu
  • Menetapkan penurunan penjualan yang bisa ditoleransi supaya perushaaan tidak mengalami kerugian
Purba | 2002
Purba menyatakan Break Even Point berdasar kepada suatu pernyataan yang sederhana, berapa jumlah unit produksi yang harusnya dijual guna menutupi semua biaya yang telah dikeluarkan untuk menghasilkan produk tersebut
PS Djarwanto | 2002
BEP adalah suatu kondisi impas yaitu bila telah tersusun perhitungan laba-rugi entitas bisnis pada periode tertentu, dan entitas tersebut tidak memperoleh keuntungan juga tidak mengalami kerugian.
Harahap | 2004
Pengertian BEP menurut Harahap, 2004 adalah suatu kondisi perusahaan tidak memperoleh laba dan tidak menerita kerugian artinya semua biaya biaya yang telah dikelarkan untuk operasi produksi bisa ditutupi oleh pendapatan dari penjualan produk.
Garrison dan Noreen | 2004
Pengertian Break Even Point menurut Garrison & Noreen, 2004 adalah suatu tingkat penjualan yang dibutuhkan untuk menutupi total biaya biaya operasional yang dikeluarkan diamana BEP tersebut adalah earning before interest and tax (laba sebelum bunga dan pajak)
Langka awal dalam penentuan BEP adalah dengan membagi HPP (harga pokok penjualan) dan biaya operasional menjadi biaya tetap dan biaya variable. Biaya tetap merpuakan fungsi waktu, bukan fungsi jumlah penjualan yang umumnya ditetapkan berdasar kontrak, contohnya sewa gedung. Sedangkan biaya variable bergantung secara langsung dengan penjualan bukan fungsi waktu, contohnya beban angkut barang

Manfaat Break Even Point


Berikut beberapa manfaat dari Break Even Point :
  • Sebagai alat dalam perencanaan untuk menghasilkan laba
  • BEP menydiakan informasi tentang berbagai tingkat jumlah volume suatu penjualan dan hubungannya dengan potensi mendapatkan laba berdasarkan tingkat volume penjualan yg bersangkutan
  • Untuk mengevaluasi laba entitas secara keseluruhan.
  • Mengganti tebalnya sistem laporan dengan grafik yang sangat mudah dibaca ataupun dimengerti.
Komponen-komponen yang memiliki peran pada BEP adalah biaya. Biaya disini merupakan biaya tetap dan biaya variable, dimana dalam prakteknya untuk menentukan atau memisahkan suatu jenis biaya apakah itu termasuk biaya tetap atau variabel bukan hal yang mudah. Biaya variabel merupakan biaya yang dikeluarkan dalam menghasilkan satu unit produk, jadi bila tidak melakukan aktivitas produksi maka biaya variabel ini tidak akan muncul, sedangkan biaya tetap merupakan biaya yang keluar untuk semua aktivitas entah itu untuk produksi ataupun bukan untuk produksi.

Tujuan utama dari suatu perusahaan salah satunya adalah mendapatkan keuntungan atau laba, untuk memperoleh keuntungan/laba secara maksimal bisa dilakukan dengan beberapa langka berikut
  • Menekan sebisa mungkin biaya produksi atau biaya operasional sekecil kecilnya, serendah rendahnya tetapi tingkat harga, kkualitas maupuan kutantitasnya tetap dipertahankan sebisanya.
  • Penentuan harga jual sedeikian rupa menyesuaikan tingkat keuntungan yang diinginkan/dikehendaki
  • Volume kegiatan ditingkatkan dengan semaksimal mungkin

Kegunaan dari Break Even Point


Diatas  sudah dijabarkan analisa BEP penting bagi pimpinan manajemen suatu perusahaan untuk bisa mengetahui berapa tingkat produksi dimana total biaya yang dikeluarkan akan sama dengan total jumlah penjualan. Dengan kata lain, dengan: BEP manajemen akan tahu hubungan antara produksi, harga jual, penjualan, biaya, laba ataupun rugi sehingga bisa mempermudah manajemen dalam pengambilan sebuah keputusan.

Asumsi Break Even Point


Analisis BEP akan beguna bila asumsi asumsi dasar dipenuhi, berikut diantaranya:
  • Biaya biaya yang dikeluarkan entitas bisa dikelompokkan kedalam biaya tetap dan biaya variable.
  • Besar kecilnya biaya variable secara total berubah ubah secara proprosional dengan tingkat volume produksi ataupun penjualan, hal ini mengartikan bahwa biaya variable per unit adalah tetap
  • Besar kecilnya biaya tetap tidak berubah walaupun ada perubahan dalam volume produksi ataupun penjualan. Ini mengartikan biaya tetap per unit berubah ubah dengan adanya perubahan pada volume kegiatan.
  • Jumlah unit yang terjual (unit produk) sama dengan angka per unit produk yang dihasilkan/diproduksi.
  • Harga jual per unit tidak akan berubah dalam periode tertentu
  • Entitas/Perusahaan hanya menghasilkan satu jenis produk. Jika lebih dari satu jenis produk, komposisi masing masing jenis produk diasumsikan tetap (konstan)

Analisis BEP juga bisa dipergunakan oleh manajemen perusahaan dalam pengambilan beberapa keputusan mengenai:
  • Jumlah produk minimal yang harus terjual supaya perusahaan tidak menderita kerugian
  • Jumlah minimal penjualan yg harus tetap dipertahankan supaya perusahaan tidak menderita kerugian
  • Besar kecilnya penurunan penjualan yang bisa ditoleransi agar perusahaan tak mengalami kerugian
  • Guna mengetahui efek dari sebuah perubahan harga, biaya ataupun tingkat volume penjualan terhadap keuntungan/laba yang didapat.

BEP juga bisa dipergunakan dalam 3 cara yang terpisah, tetapi masih saling berhubungan satu sama lainnya, yaitu digunakan untuk:
  • Menganalisis program otomatis diamana suatu entitas akan melakukan operasi dengan cara lebih mekanis serta otomatis dan mengganti biaya variable dengan biaya tetap
  • Mengamati/menelaah impak dari suatu perluasan tingkat aktivitas operasi secara umum
  • Membuat suatu keputusan mengenai jenis produk baru yang harus dicapai apabila perusahaan  menginginkan BEP dalam suatu project yang diusulkan

Kita bisa menggunakannya menjadikan rumus untuk mengetahui hal hal seperti berikut ini
  • Hubungan antara biaya, penjualan serta laba
  • Mengetahui struktur biaya variable dan biaya tetap.
  • Bisa mengetahui kemampuan dalam merendahkan atau menekan biaya dan batasan dimana suatu perusahaan tidak mengalami rugi dan juga laba.
  • Mengetahui hubungan antara volume, cost, harga serta laba

Analisis BEP bisa memberikan penerapan yang cukup luas untuk mengujikan aktivitas aktivitas yang diusulkan didalam mempertinbangkan beberapa alternatif ataupun tujuan pengambilan suatu keputusan yang lain. Analisa BEP bukan sekedar semata mata hanya untuk mengetahui kondisi perusahaan yang Impas atau break even saja, tetapi analisa break even point bisa memberikan informasi kepada para pimpinan entitas/perusahaan mengenai berbagai tingkat volumi penjualan dan juga hubungannya dengan potensi atau kemungkinan mendapatkan keuntungan menurut tingkat penjuualan yang bersangkutan.

Kelemahan dari Analisa Break Even Point.


Walaupun Analisa Break Even Point ini telah banyak dipergunakan oleh berbagai perusahaan, namun tidak bisa nafikanbahwa analisa break even point ini memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan yang paling menonjol dari analisa BEP ini beberapa diantaranya: asumsi mengenai linearity, klasifikasi biaya dan pada penggunaan terbatas dalam rentang waktu yang tidak panjang.


Pendapatan Diterima Dimuka | Prepaid Income

Pengertian Pendapatan Diterima di Muka


Pendapatan Diterima Dimuka atau Prepaid Income adalah pendapatan dari suatu barang ataupun jasa yang masih belum diterima.

Saat kapan sebuah pendapatan harus diakui sibagai pendapatan di terima dimuka ? saat kapan pendapatan diakui sebagai pendapatan jasa atau penjualan aja ? Apabila terjadi ketidaksesuaian pengakuan suatu pendapatan, apa yang seharusnya dilakukan ? Ok, mari kita bahas :)

Pendapatan Diterima Dimuka
Pendapatan Diterima Dimuka
Menilik dari pengertian diawal tadi, pendapatan diterima dimuka kelihatannya sangat simpel, sederhana serta mudah kan ?

Namun kenyataannya pada masa saat ini, sektor sektor bisnis usaha makin bervariasi, jenis jasa atau barang, sistem dalam pembayaran, maupun alat pembayarannya yang makin bermacam macam memaksa penerapan pencatatan akuntansi jadi makin komplek juga rumit, tak sesederhana pengertian itu tadi. dibutuhkan "mix" dan "match". Tetapi hanya jika konsep akuntansi dasar telah dipahami secara benar, diputar putar, dibolak balik bagaimanapun juga, benang merah-nya tidak akan berubah, alias tetap sama

Pengakuan Pendapatan Diterima Dimuka.


Coba anda perhatikan sebuah contoh berikut:

25 February 2015 UD Kras mendapatkan order 1.000 pcs pasang sepatu yang berharga @ Rp 50.000 per pasang sepatu. sesuai rencana, pengiriman order tersebut dilakukan secara bertahap, jadwalnya seperti dibawah ini:

Tanggal  Jenis Kuantitas Harga  Jumlah
Pengiriman Barang (pasang) (Rp) (Rp)
02-Mar-15 Sepatu 300 50.000 15.000.000
15-Mar-15 Sepatu 300 50.000 15.000.000
31-Mar-15 Sepatu 400 50.000 20.000.000
Total 50.000.000


Dari order diatas, pada tanggal yang sama, UD Kras menerima uang sebesar Rp 30.000.000 untuk Dp-nya, dan sisa pembayarannya akan diterima saat tiap kali barang telah diserahkan ke pemesan.

Dari transaksi tersebut, tanggal 25 February 2015 UD Kras melakukan penjurnalan seperti berikut :

Debit | Kas 30.000.000
Debit | Piutang 20.000.000
Kredit | Penjualan 50.000.000 (50.000 x 1.000)

Pertanyaan:
Apakah jurnal tersebut apakah telah sesuai ?

Jawabannya kita tunda dulu :D sementara kita lanjut ke pembahasan selanjutnya.

Pengakuan Penjualan atau Pendapatan Jasa.

Suatu pendapatan jasa ataupun penjualan diakui ketika barang ataupun jasa telah diserahkan, paling lambat ketika kas sudah diterima. apabila barang atau jasa telah diserahkan ke kostumer, namun pembayaran atau kas masih belum diterima, maka penjualan dicatat dengan cara mendebit akun piutang. namun apabila kas telah diterima, penjualan atau pendapatan jasa tentunya dicatat dengan cara mendebet akun kas. 

Didalam contoh kasus diatas tadi, bukankah pembayaran dengan kas telah diterima ? itu artinya penjualan sudah sangat bisa diakui kan ? yup betul, kas telah diterima namun barang (dalam contoh ini sepatu) yang diorder belum diserahkan ke pemesan sehingga penjualan masih belum bisa diakui.

Lho, kenapa jika barang atau jasa masih belum diserahkan, penjualan atau pendapatan jasa tidak diakui dulu?

Ingat, didalam dunia akuntansi, prinsip kesesuaian masih berlaku, bisa disandingkan ( the matching principle ). yang berarti tiap pengorbanan ekonomi (beban/biaya/pengeluaran) yang diakui harus disandingkan dengan gain atau manfaat yang ditimbulkannya pada periode waktu yang sama. Sederhananya, tiap beban yang muncul hendaknya bisa disandingkan dengan penjualan atau pendaptan yang diperoleh, pun sebaliknya untuk tiap pendapatan mestinya bisa disandingkan dengan beban (expenses) yang muncul.

Dalam kasus UD Kras tersebut diatas, UD Kras telah mengakui adanya pendapatan padahal sepatu (barang) masih belum diserahkan pada kliennya yang memesan. UD Kras masih belum melakukan produksi, kan baru saja orderan sepatu itu diterima ? 
praktis, UD Kras belum ada beban atau biaya yang muncul akibat orderan barang pesanan sepatu tersebut.

Dengan model pencatatan UD Kras diatas, apa saja ekse yang muncul akibat ketidaksesuaian pencatatan tersebut?

Karena ketika tanggal 25 February UD Kras mengakui penjualan senilai Rp 30.000.000 padahal beban atau biaya belum ada yang keluarkan, maka dalam laporan laba-rugi periode 1-29 februari 2015, UD Kras akan terlihat adanya Laba, setidak-nya senilai Rp 30.000.000

Sedangkan pada periode selanjutnya, 1-30 Maret 2015 UD Kras akan mencatat biaya atau beban secara terus menerus guna merealisasikan produksi orderan yang pembayaran-nya telah dibukukan dalam laporan laba rugi periode sebelumnya, sehingga saat penutupan buku 31 Maret 2015 UD Kras akan mengalami/membukukan kerugian (Lost) yang besarnya setidaknya sama dengna biaya dan beban yang muncul selama bulan tersebut. apabila ditampilkan dalam bentuk grafik, maka trend performa yang dihasikan akan terlihat tidak wajar. akan terjadi fluktuasi yang bisa dibilang drastis dari bulan february ke periode bulan maret 2015.

Lalu harusnya kapan dan juga bagaimana melakukan suatu pengakuan yang lebih sesuai supaya trend performa laporan laba-rugi terlihat wajar?

Tips-nya:
Tiap suatu transaksi pendapatan yang masih belum menimbulkan biaya/beban dicatat pada akun atau rekening yang ada pada Neraca

Didalam contoh kasus UD Kras diatas lebih baik dicatat (lihat jadwal pengiriman barang dan pembayaran diatas):

Saat 25 February 2015 | pertama kali memperoleh pembayaran dijurnal:

Debit | Kas 30.000.000
Kredit | Pendapatan Diterima Dimuka 30.000.000

Saat Tanggal 02 Maret 2015 | Pengiriman sepatu pertama dijurnal/dicatat:

Debit | Harga Pokok Penjualan Rp xxxx
Kredit | Persediaan Rp xxxx

Debit | Pendapatan Diterima Dimuka 15.000.000
Kredit | Penjualan 15.000.000


Notes:
Penjualan diakui ketika barang telah dikirim, dan penjualan yang telah terjadi sudah bisa disandingkan dengan biaya dan beban yang muncul pada periode yang sama, yaitu HPP (Harga Pokok Penjualan). Coba perhatikan akun pendapatan diterima dimuka. dengan penjurnalan tanggal 02 maret 2015, maka saldo pendapatan diterima dimuka hanya tinggal senilai Rp 15.000.000 saja.


Pencatatan ketika pengiriman pesanan sepatu ke-2. 15 Maret 2015:

Debit | Harga Pokok Penjualan Rp.xxxx
Kredit | Persediaan Rp.xxxx

Debit | Pendapatan Diterima Dimuka 15.000.000
Kredit | Penjualan 15.000.000


Notes:
Penjualan dijurnal-dicatat senilai 15.000.000 dengan men-debit akun pendapatan diterima dimuka, jadi total penjualan adalah 30.000.000 dan saldo akun pendaptan diterima dimuka akan menjadi NOL.

Pencatatan 31 Maret 2015 | pengiriman terakhir, belum terima pembayan:

Debit | Harga Pokok Penjualan Rp.xxxx
Kredit | Persediaan Rp.xxxx

Debit | Piutang 20.000.000
Kredit | Penjualan 20.000.000


Pencatatan 01 April 2015 | pembayaran telah diterima:

Debit | Kas 20.000.000
Kredit | Piutang 20.000.000

Notes:
Ketika pengiriman yang terakhir atau yang ke-3, barang telah diserahkan dan penjualan bisa di match (dilawankan) dengan HPP (harga pokok penjualan) sehingga wajar bila terakui sbgai penjualan. pun bila kas juga belum diterima, kan bisa men-debit akun Piutang.

Kesimpulan Pendapatan Diterima Dimuka


Apabila diperhatikan penjurnalan diatas, bisa kita lihat pada tiap pengakuan sebuah penjualan mesti bersandingan dengan pengakuan HPP (harga pokok penjualan) atau yang disebut cost factor yang dilegalisasi dengan perpindahan fisik barang yang terefleksikan pada akun persediaan yang saldonya makin berkurang (ada disisi kredit). inilah esensi dari Matching Principle dalam dunia akuntansi.

Apakah ketidaksesuaian pencatatan yang telah dilakukan oleh UD Kras pada awal transaksi perlu untuk dibuatkan sebuah adjustment entry ?

Jawaban: Tergantung 

Tergantung apabila ketika pengiriman sepatu (barang) yang pertama dan ke-2 UD Kras hanya mengakui HPP (Harga Pokok Penjualan) dengan meng-kredit akun Persediaan saja dan tidak mencatat penjualan lagi, maka tidak mutlak diperlukan sebuah adjustment entry.

Lho, Kenapa ?

UD Kras hanya terlalu dini (awal) mengakui sebuah penjualan yang dalam akuntansi hal ini diistilahkan "Early Revenue Recognition" yang masih dikelompokkan kedalam 'Miss Statement', masih belum digolongkan " Material Issue ". Pun hanya terjadi pada periode tahun buku akuntansi yang sama, dimana pendapatan yang diakui pada bulan february (revenue overstatement) akan diimbangi oleh beban pada bulan maret (cost overstatement). hanya saja performa trendnya terlihat tidak wajar, lain cerita apabila kasus yang terjadi adalah 'Premature revenue recognition', yaitu sebuah pengakuan pendapatan atas ssuatu "potensi pendapatan" atau hanya berupa komitment, maka hal tersebut termasuk golongan 'Material Issue'. Tetapi, tetap saja, pencatatan seperti UD Kras lakukan pada awal awal tadi sebaiknya tidak dilakukan, lebih baik dihindari karena apabila terjadi pada akhir tahun buku akan menjadi sangat merepotkan.


Senin, 02 Februari 2015

Pengertian Pasiva

PENGERTIAN PASIVA DALAM AKUNTANSI


Dalam dunia akuntansi, pengertian Pasiva adalah suatu pengorbanan ekonomi suatu entitas bisnis yang dilakukan oleh suatu entitas bisnis dimasa mendatang. Pengorbanan dimasa mendatang ini muncul karena aktivitas usaha. Secara sederhana, Pasiva atau istilah lainnya liabilites merupakan kewajiban entitas bisnis yang harus dibayarkan kepada pihak ke-3 atau kreditor, dan yang termasuk digolongkan kedalam pasiva adalah MODAL

Liabilities atau passiva dilihat dari jangka waktu umumnya dikelompokkan dalam :
  • Current Liabilities (Hutang jangka pendek)
  • Long Term Liabilities (Hutang jangka panjang)

Current Liabilities |Hutang Jangka Pendek


Current Liabilities atau hutang jangka pendek merupakan hutang yang sesegera mungkin harus dibayarkan paling lambat selama satu tahun buku. Utang Jangka Pendek jenisnya antara lain:

Wesel Bayar atau Utang Wesel
adalah wesel yang harus dibayarkan kepada pihak dimana pernah berikan kepadanya. Umumnya umur wesel bayar adalah selama 30, 60 ataupun 90 hari.
Account Payable atau Hutang Dagang
Account Payable merupakan utang kepada supplier atau  rekanan perusahaan, jenis utang ini timbul karena pembelian barang bahan baku ataupun lainnya dalam rangka operasional perusahaan kepada supplier belum terbayarkan.
Beban yang masih harus dibayar
yaitu semua biaya yang masih belum dilunasi dalam suatu periode akuntansi tertentu, contohnya hutang gaji, utang upah maupun utang biaya yang lain.
Differed Revenue (Penghasilan yang ditangguhkan)
Differed Revenue merupakan suatu penghasilan entitas yang semestinya belum menjadi hak entitas/perusahaan.
Unearned Revenue (Pendapatan Diterima Dimuka)
Pendapatan diterima dimuka merupakan suatu bentuk kewajiban yang ditimbulkan karena entitas atau perusahaan menerima uang dimuka atau terlebih dahulu sedangkan kewajiban atas barang atau jasa masih belum direalisasikan atau belum dilakukan.
Payable Deviden (Utang Deviden)
Utang Devidan merupakan bagian laba enitas atau perusahaan yang dibagikan/diberikan kepada owner atau pemilik saham namun belum dibayar pada saat neraca disusun.
Non Interest Bearing Notes (Wesel Bayar tak Berbunga)
Kewajiban ini merupakan nilai nominal dikurangi dengan diskonto-nya

Long Term Liabilities | Utang Jangka Panjang


Utang yang digolongkan kedalam Long Term Liabilities adalah semua hutang yang tempo pembayaran-nya relatif lama, Beberapa akun yang diklasifikasikan sebagai utang jangka panjang adalah:
  • Bank Loan (utang bank), merupakan  pinjaman modal kerja untuk entitas bisnis dari bank. Biasanya digunakan untuk ekspansi atau hal hal strategis lainnya.
  • Mortgages Payable (Utang Hipotik), merupakan utang pinjaman bank dengan menggunakan harta tetap (aset tetap) perusahaan sebagai jaminan.
  • Bonds Payable ( Hutang obligasi), merupakan kewajiban yang ditimbulkan karena entitas bisnis menerbitkan serta menjual oligasi. Obligasi disini merupakan suatu surat berharga yang berfungsi sebagai surat bukti dimana menyatakan bahwa, pemegang surat obligasi meminjamkan sejumlah uang kepada entitas bisnis/perusahaan  yang  mengeluarkannya. Pemilik/pemegang obligasi akan memperoleh bunga tetap secara berkala yang biasa disebut dengan istilah kupon.
  • Long Term Loan (Kredit noveltasi), kewajiban ini merupakan suatu pinjaman jangka panjang  yang diperoleh dari bank  ataupun lembaga keuangan  yang lain yang dipergunakan untuk pelunasan entitas perusahaan.
  • Suberdinated Loan (Hutang Suberdiresi), merupakan kewajiban dari pemegang saham perusahaan induk  yang  sifatnya tanpa ada bunga.
  • Payable Leasme (Utang Sewa Dana), merupakan suatu utang yang didapat dari perusahaan asing untuk pembelian sebuah aset tetap yang umumnya dicicil dalam rentang waktu panjang.
  • Holding Company Loan (Utang Pemegang Saham) kewajiban ini umumnya diberikan oleh perusahaan induk kepada anak perushaanuntuk membantu perushaan anak atau perusahaan afiliasi yang baru atau untuk operasional perusahaan yang dikendalikannya yang memerlukan pinjaman hutang.
  • Long Termen Lent Liabilities (Utang Sewa Jangka Panjang), merupakan suatu utang atau kewajiban perusahaan yang masih harus dibayar dalam tempo atau waktu yang relatif lama.

Modal


Modal atau Capital merupakan salah satu komponen dari pasiva. Modal didapat/diperoleh dari selisih total aktiva/aset dengan kewajiban (liabilities). Selisih ini adalah hak dari owner/pemilik entitas bisnis (perusahaan).

Baik, saya kira sekian sekilas tentang passiva menurut pengertian akuntansi, semoga artikel ini bermanfaat bagi anda, Terima kasih banyak.


Copyright © 2015 LZRDY 0721
| Distributed By Gooyaabi Templates